Kamis, 05 Juni 2014

Puisi : Bayanganku di pantulan


Sesekali aku menirumu.. meniru Kalian.


Aku hanya penasaran ingin tahu seperti apa nikmatnya berada di duniamu. Dari jauh kuperhatikan banyak tawa disana. Penuh kepercayaan diri. Sayang sekali Kau terlalu arogan. Arogan dengan manusia hina sepertiku.

Aku mulai letih.

Sungguh memuakkan saat kulihat pantulanku di cermin:

membuatku malu pada bayanganku sendiri..













Bayanganku di pantulan


Aku tenggelam dalam luapan obsesi para kerdil
yang berpergian tiap malam dengan sandal bermeter tingginya
dengan  wajah yang tak pernah absen untuk bersolek
miris..
padahal yang mereka mengerti hanyalah kata mewek 

Seperti tertular penyakit anehnya, aku ikutan tak tahu diri
mulai pakai sandal kerdil agar aku jadi tinggi
rasanya nikmat-seperti keranjingan setan obsesi
Ku umpat semuanya! mereka yang banyak berdosa padaku
mengkotakkan dan menentukan kasta seenak jidatnya 

Namun bulan tiba-tiba hilang.. aku kebingungan..
seperti Si-gila aku meringkuk lagi diujung lorong pengasingan
menatap minta dikasihani para kerdil yang jijik bersimpati

Pada cahaya aku berbisik:
Jangan takut.. tenang saja..
jiwa ini sudah mati.. ditelan oleh kemunafikan
yang tersisa hanyalah letih dari ronta kesakitan

Kini yang ku bisa hanyalah menawarkan pertemanan, pada bayanganku di pantulan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar