Selasa, 03 Juni 2014

Puisi : Tahi Lalat


Temanku punya musuh, musuhnya punya teman, lalu temannya musuhku adalah temanku dan temannya temanku-semoga ngga membingungkan.

Sejujurnya ini rahasia, tapi aku ingin menceritakannya.. musuh temanku dan orang yang kubenci adalah orang yang sama.. “Dia punya tahi lalat”

Sebagai bentuk rasa trimakasihku padanya, kutulis sebuah puisi manis untuknya..

Kepada: Si pemilik tahi lalat


Ada lalat yang singgah di ujung bibirnya
Hitam besar namun tak beraroma
Mungkin bau mulutnya melebihi bau tahi lalat
Sampai-sampai lalat mati karena nafasnya

Ada lalat yang singgah di ujung bibirnya
Bergerak-gerak haus akan perhatian
Mungkin itu hanya sebuah tahi lalat tanda lahir
Namun bukankah lalat suka membuang tahinya tanpa berpikir?

Ada lalat yang singgah di ujung bibirnya
Ah, itu bukan lalat melainkan hanya tahinya
Bibirnya berkedut semenjak tahi lalat ada disitu
Kini lalat takut membuang tahi di bibir gadis itu


Mohon maaf, karena manusia munafik sudah biasa, selain kepada Tuhan.. aku hanya bisa bercerita dengan sang maya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar